A dying breed : penolong

Posted November 18, 2008 by lastariduggan
Categories: 1

beberapa orang datang bersamaan dan berjalan menuju pagar TK. satu persatu masuk dengan tertib, dan orang yang masuk duluan menahan pintu supaya tetap terbuka lebar dan orang selanjutnya berkata “thanks” dan mengambil alih menahan pintu untuk orang yang selanjutnya. Orang yang terakhir masuk lalu menutup pintu supaya tidak ada anak yang bisa kabur keluar ke tempat parkir.

Itu adalah satu hal keseharian yang saya sukai di sini. Orang-orang kelihatannya lebih otomatis melakukan hal-hal kecil seperti itu.  membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal (sama sekali bukan kecengan), memungut barang jatuh untuk orang lain (bukannya untuk dibawa lari loh…), memberi jalan untuk pejalan kaki yang menyebrang di bunderan (dengan bonus senyum lagi), dll. Hidup kelihatannya lebih indah dan lebih manusiawi. Sebagai penerima jasa, kita merasa bahagia karena ada orang baik yang menolong, dan sebagai pemberi jasa, kita bahagia karena memberikan kemudahan pada orang lain hanya dengan bermodalkan senyum dan sedikiiiiiit waktu extra.

Saya ingat pengalaman saya tahun lalu di bandara lokal di Bali, dalam perjalanan pulang dari Bali ke Jakarta, saya mengalami kesulitan naik tangga menuju ke terminal lantai atas. saat itu saya sendirian sedang hamil 5 bulan dan membawa 2 anak balita yang kecapaian dan dorongan bayi. Pak satpam dengan santai berdiri dan  memandangi saya, dan berpuluh-puluh calon penumpang yang keren dan gagah melewati saya  dengan cueknya. Lalu datang seorang pria asing agak berumur dan berkata dengan logat eropa yang kental “do you need help?” dengan sangat berbahagia saya sambut tawarannya. Setelah selesai membantu saya, saya lihat dia kembali ke lantai bawah. What a hero! Meskipun hari itu saya tidaklah mengalami hari yang menyenangkan, kenangan atas pertolongan bapak tersebut menjadi kenangan manis yang selalu saya ingat.

Untunglah saya sebagai orang Indonesia asli tahu bahwa tidak semua orang Indonesia seperti para calon penumpang di Bandara Bali tersebut yang cuek dan kurang inisiatif. Bayangkan kalau hal tersebut terjadi pada orang asing. Bayangkan kebingungannya “lho, saya kira orang Indonesia itu….??” Maka yang saya akan katakan padanya adalah “tidak semuanya lho begitu, saya tahu banyak mahasiswa waktu jaman dulu saya kuliah yang menawarkan tempat duduknya di bis Jatinangor ke ibu-ibu yang tua” Kecuali tentunya kalau sedang kecapaian, boleh dong pura-pura tidur, siapa tahu ada orang lain yang jadi sukarelawan…

“stress” dalam pengucapan bahasa – opini saja

Posted October 19, 2008 by lastariduggan
Categories: Language

Bahasa untuk kebutuhan praktis adalah alat berkomunikasi.  Apakah itu komunikasi tingkat biasa, seperti untuk ngobrol sehari-hari, atau tingkatan yang lebih canggih lagi, seperti untuk membahas teori atom, atau penggunaan penggambaran nan puitis untuk menggerakkan jiwa. Bahasa pun bisa berbagai macamnya. Apakah itu bahasa Indonesia, Jerman, Inggris, Klingon, atau bahkan bahasa pemrograman komputer.

Saya tertarik terutama pada bahasa yang bisa diucapkan, pada aspek pengujarannya (prononsiasi). Saya pikir, dalam pengajaran bahasa pada umumnya, banyak sekali penekanan terhadap pentingnya prononsiasi yang tepat, seperti kalau dalam bahasa Jerman  kita dulu berlatih khusus  untuk mengucapkan r, sch, ue,oe, dll semirip dengan orang pemilik bahasanya. Dalam bahasa Inggris, kita belajar men’cadel’kan  beberapa abjad, seperti cuna (tuna),  rrwound (round) dll. Dan betapa kita sebagai murid juga berusaha untuk mengucapkannya sepersis mungkin seperti yang diajarkan.  Dan betapa terkejutnya, ketika dibawa ke lapangan untuk berbicara dengan “bule” aslinya, ternyata bukan saja kita sangat sulit untuk mengerti apa yang mereka ucapkan, tetapi juga mereka suka kesulitan mengerti apa yang kita ucapkan.

Satu hal yang juga selalu kita berusaha fokuskan adalah sisi gramatisnya. Kita berusaha untuk memproduksi kata yang benar secara gramatis. Selama bicara kepala sibuk berpikir untuk mengkonstruksi kalimat yang “grammatisch richtig mit perfekter Aussprache”.

Tapi menurut saya ada satu hal penting yang sering terlewatkan adalah penekanan katanya sendiri. Kalau diperhatikan, setiap bahasa memliki cara penekanan kata yang berbeda. Maksud saya, kemungkinan besar orang Indonesia, Jerman, Perancis dan Australia akan mengucapkan satu kalimat/kata yang sama bukan saja dengan cara pengucapan “r, s, t, dll”  yang berbeda, tapi mereka juga menekan pada bagian kata yang berbeda. Contohnya:  “I live in Vancouver” orang indonesia mungkin akan mengatakannya ” I li;f in Vankuva” orang Jerman “I li:vb in Vanku:va”  orang Perancis ” I li:f in vangkuve:” dan orang Oz “I li:V in Vaenku:va” Di contoh di atas, penekanan silabel mana yang dipanjangkan berbeda letaknya, yaitu: 

Indon – vankuva     Jerman – Vanku:va    Perancis – Vangkuve:  oz – Vaenku:va

menurut saya, penekanan yang benar letaknya memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dapat dimengertinya kata/kalimat yang diucapkan. Dalam hal di atas kemungkinan besar orang Australia akan dapat menangkap apa yang dimaksud oleh orang Jerman lebih cepat daripada yang berkebangsaan lain, karena penekanan -yang tepat menurut orang Oz- (panjang setelah ku: dalam Vancouver) membantu si orang Australia untuk menginterpretasikan kata yang dimaksud.

Contoh lainnya adalah dalam film “lost in translation” yang dibintangi oleh BIll Murray sebagai aktor Amerika yang shooting iklan whisky di Jepang, diminta untuk berakting seperti Roger Moore. orang Jepang mengucapkan nama “Roger Moore” dengan cara Ro: jamu dan Bill Murray harus berkali-kali minta diulang, dan ketika dia mengerti dia mengulang nama tersebut dengan cara ah…”roja Mu:”

“grammatisch richtig mit perfekter Aussprache” akan lebih efektif jika bekerja sinergis dengan penekanan kata yang tepat. Bahkan menurut saya, terkadang penekanan kata yang tepat akan lebih berperan vital dalam pengertian dan memperlancar proses komunikasi yang berlangsung, terutama dalam proses normal untuk kepentingan sehari-hari. Saya sangat tertarik jika ada formulasi tentang cara pengajaran penekanana kata yang sudah dikembangkan, karena menurut saya hal itu akan merevolusikan cara pengajaran bahasa asing dasar  di sekolah.

Terakhir, mohon maaf kalau ada contoh pengucapan multi nasional yang salah. Cara pengucapannya tidaklah sempurna karena hanya menggunakan huruf standar di keyboard komputer. Dan saya ambil contoh orang dari nasionalitas di atas karena jaman dulu saya sempat mengenal beberapa orang dari kebangsaan tersebut dan juga saya memiliki beberapa ketertarikan terhadap bahasa Indon, Jerman, Perancis, dan Inggris

Hedera Helix (English Ivy)

Posted October 19, 2008 by lastariduggan
Categories: Nature and gardening

With dismay, I looked at the english ivy start creeping up the nearby tree again. I had a big battle with the Ivy bush last year and removed as many as possible from the ground  using the limited time I had (mind you, I had 3 children under 5). There are three spots in the garden that has 3 ivy bush growing and badly need attention. One is in a really awkward spot in the corner of the garden under the big gum tree.

Now we’re in the middle of spring and everything is growing marvellously. And the ivy’s new growth of glossy young leaves really makes a luscious bush. It looks spectacular, really. That’s why  in the beginning I let the bushes run rampage, until  my father in law pointed out to me that the tree it was clinging onto was almost choked. Then I was so surprised when I tried to pull down the tendrils from the tree trunk they were actually stuck and wouldn’t give in without force. And when they finally came off, they left this nasty marks on the trunk, as if they had sucked the tree alive.

From then on it was war for me. I adopt organic gardening method in my garden, but I wouldn’t mind kill the ivy with poison. But it just pose a problem, which is I’m not sure if the poison wouldn’t kill the tree growing nearby either. So I just have to resort to pulling and digging. It’s a back breaking job and makes my skin and eyes so itchy, and the ivy keeps growing back. I suppose, at least I keep it under control. They are  nasty invaders as well. Our rockery garden was almost smothered with all the ivy keeps popping out of nowhere. And  trying to remove the roots from the under the rocks means I have to lift the rocks and unstabilize the composition, which I wouldn’t want to happen. 

Throughout the year I was the ivy police, checking the new shoots and pulling them out then and there, but we have to much ivy and one month of holiday in spring proved to be a window of opportunity to take over the garden again. Considering how vigorous this plant is and how much damage it said to cause in the Australian bushland, I’m amazed that this plant is still sold in nursery without warning.

I still love to see ivy on the wall of an english mansion  or in a very well tended garden, or even in a beatiful urn. But I can’t see this plant with innocent eyes anymore

Hari orientasi sekolah dasar

Posted October 19, 2008 by lastariduggan
Categories: family

tahun depan, Patrick, anak saya yang pertama  bakalan masuk SD. Untuk pemanasan, di semester  terakhir ini disediakan 4 hari orientasi. dua minggu sekali, calon murid-murid SD datang ke sekolah yang diminati selama 2 jam. Orangtua mengantar anaknya jam 9.15 pagi (SD mulai jam 9.00) dan kemudian selama 2 jam anak-anak melakukan beberapa aktifitas di dalam kelas. Aktifitasnya tidak jauh berbeda dengan TK, yaitu bermain Lego, permainan imajinasi seperti membuat setting perternakan dengan boneka ternak, rumah dan pepohonan, membaca buku dan menggambar. Yang berbeda adalah di dalam kelas mereka juga bisa bermain komputer (berhubungan dengan permainan kata dan logika) menggunakan 4 komputer yang tersedia di kelas.

di masa orientasi ini calon murid berkenalan dengan guru dan calon teman-teman SD lainnya, juga mereka diperkenalkan dengan “buddy”nya. Setiap anak baru akan memiliki 2 orang buddy dari kelas 6. Tugas buddy adalah menunjukkan  tempat-tempat di sekolah, seperti lapangan bermain, toilet, perpustakaan dll. Juga mereka bisa menjadi tempat bertanya sepanjang tahun ( kalau hubungannya berjalan baik).  Kebanyakan buddy menganggap serius sekali tugas mereka sebagai mentor untuk anak baru yang masih kecil-kecil. Oh ya, SD di Australia terdiri dari 7 tahun, yaitu tingkatan prep, dan kelas 1-6.

Kelas tahun depan akan terdiri dari 2 kelas campuran antara murid Prep dan kelas 1. setiap kelas akan terdiri dari 18 murid. Tujuan pencampuran kelas adalah agar murid yang agak lambat atau berbakat dapat mendapatkan program belajar yang sesuai.  Di dalam kelas setting bangkunya dibuat mengelilingi meja berbagai ukuran, rata-rata ada 4-8 bangku per meja. Dan selama belajar setiap meja mendapatkan latihan yang mungkin agak berbeda tingkat kesulitannya, tergantung tingkat pemahaman muridnya.

Karena SD yang Patrick akan kunjungi adalah SD negri, pengajaran rohani adalah terserah  ijin orangtua. Pengajaran rohani ini akan berdasarkan pada ajaran kristen (rprotestan), tetapi  tanpa terlalu berlebihan kristen, tetapi lebih menyerupai ajaran etik dan juga pengajaran mengenai tradisi-tradisi ajaran kristen seperti natal dan paskah. Karena latar belakang keluarga kami yang muslim, saya sendiri tidak yakin apakah saya akan mengijinkan Patrick untuk mengikuti pelajaran rohani. Saya sendiri akan menilik beberapa pelajaran di kelas sebelum memutuskan. Dan gurunya memang mengijinkan orangtua untuk berpartisipasi.

Pelajaran lainnya yang merupakan pilihan adalah berenang di kolam umum, musik (antara gitar atau piano) dan bahasa Indonesia. Saya akan serahkan pilihan ini kepada Patrick, tapi saya tidak akan heran jika dia memilih berenang, karena dia sangat gemar berenang.

saya cukup puas dengan kondisi SD yang saya lihat. Fasilitasnya memadai, gurunya terlihat ramah dan dapat diajak berdiskusi mengenai anak, dan jumlah murid di kelas tidaklah terlalu banyak. saya pikir, hal ini berkenaan dengan tempat tinggal kami yang terletak di kota kecil.

Tahun depan adalah tahun yang penuh dengan kesibukan (jam SD normal adalah senin-jumat 9.00-3.20) Tetapi saya juga sangat menantikan tahun depan, di mana anak saya semoga akan lebih mengembangkan sayapnya dan belajar untuk lebih mandiri

Pengalaman inisiasi seorang angkatan 92

Posted October 10, 2008 by lastariduggan
Categories: general

untuk saya yang batas jam malamnya biasanya jam 9, bermalam di perkebunan teh di pondok yang sangat ala kadarnya sudah merupakan petualangan tersendiri. Pas makan malam saya sibuk meraba siapa akang/teteh yang bakalan jadi eksekutor dan tidak lupa juga menilik-nilik senior yang bisa dijadikan calon kecengan.

Pergi tidurpun sangat menegangkan, karena ada antisipasi sesuatu pasti akan terjadi. Dan benar saja, belum lama saya terlelap, terdengarlah bentakan-bentakn yang menyuruh kita bangun. dengan tergesa-gesa kita bangun, dibariskan dan dikelompokkan sebelum memulai perjalan menuju pos-pos yang tersembunyi di balik pohon-pohon teh. Kita tidak tahu apa yang bakaln terjadi di setiap pos. Kadang lembut, kadang semi informatif, kadang dibentak-bentak dan disuruh push up. Saya anaknya senang cari amannya saja. Jadi kalau disuruh tunduk, aku tunduk. Kalau diteriaki cepat…, cepat….! ya bertambah bergegaslah aku.  Setelah terbebas dari pos yang galak, kita di kelompok lalu mencaci maki senior yang galak – tentunya berbisik-bisik – siapa tahu ada senior yang mendengarkan.

Saya sendiri tidak begitu ingat lagi akan detail-detailnya. maklumlah, pengalamannya sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.  Tapi yang saya ingat betapa semua unsur drama ada di inisiasi. angkatan kolot yang sudah galak,  tidak begitu cakep pula sebagai peran antagonis, akang-akang yang simpatis dan kalem sebagai peran protagonis, pengalaman di pos galak sebagai tragedinya, dilatar-belakangi perkebunan teh yang asri dan malam pekat yang dingin menggigit. Dan pengalaman kulinari berupa indomie (thank God) goreng.

Dan oh….bakso. Tak ada yang senikmat bakso yang disantap ala al fresco duduk di pinggiran jalan perkebunan teh.

Dua hal yang saya syukuri : pertama, pengalaman inisiasi saya cuma sebatas bentakan-bentakan kolektif dan  disuruh push up. kedua, meskipun saya menemukan kecengan, ternyata kelihatannya cuma bertepuk sebelah tangan. Dua minggu setelah inisiasi dan kembali ke habitat normal di jatinangor, saya lihat kecengan saya lewat dan berpikir, ih.. kok bisa-bisanya sih ngecengin orang itu. mendingan jomblo deh daripada jadian dengan dia”

disclaimer: bentakan-bentakan dan olahraga berat tidak cocok untuk orang yang bermasalah jantung 🙂

Pohon peach yang ajaib

Posted October 2, 2008 by lastariduggan
Categories: general

Suatu hari, pada musim panas tahun yang lalu, beberapa bulan setelah kami pindah ke rumah baru kami di Beechworth, mataku menangkap satu pohon di sudut taman di dekat pagar masuk. Pohon itu mengandung banyak sekali buah, sampai-sampai dahan-dahannya mendoyong ke bawah dan pucuk-pucuknya menyentuh tanah. Kudekati pohon itu, ternyata pohon itu adalah pohon peach. Terkejut sekali aku. Kemana saja aku selama ini? kok pohon yang sebegini besar dan di dekat pintu masuk saja tidak kelihatan olehku? Kupetik satu buahnya, kuraba kulitnya yang selembut beludru, terasa hangat di telapak tanganku dari sinar mentari pagi itu. Kutekan sedikit dagingnya yang ranum, dan berdesir ke hidungku aroma manis yang menjanjikan seribu kenikmatan.

Aku terpana dan tidak habis pikir, bagaimana bisa aku kelewatan memperhatikan pohon peach ini? apakah karena kesibukanku membongkar dus-dus pindah rumah? atau karena kesibukanku mengasuh anak ketigaku yang baru berusia 4 bulan? atau kesibukanku mengasihani diriku sendiri yang harus memulai lagi dari awal di daerah pedesaan yang jauh dari keluargaku dan keluarga suamiku? Kuambil keranjang rotan dari dalam rumah, kuisi dengan buah-buah peach yang terbesar dan teranum.

aku berdiri di tengah taman dengan tangan memegang keranjang dipenuhi oleh buah peach, kupandang sekelilingku. Pohon-pohon besar yang indah mengelilingiku, kuhirup udara pedesaan yang terasa murni di paru-paruku, kudengar suara burung bernyanyi bagaikan melodi dari surgawi, dan terutama, aku memegang sekeranjang peach hasil dari kebunku sendiri. Aku adalah pemilik pohon peach ini! I’m the queen of the castle! Betapa istimewa!

Hatiku bernyanyi, Kakiku melangkah ringan memasuki rumahku. Sejak saat itu, Beechworth is my new home sweet home.

Teruntuk orangtuaku

Posted September 29, 2008 by lastariduggan
Categories: family

Ibuku sudah 70 tahunan. Rambutnya sudah memutih dan tubuhnya sudah tak sebugar dulu lagi. Ibu tinggal di Bandung, di kota dimana aku tumbuh sebagai remaja. Ia tinggal dengan bapakku yang juga sudah berusia 70 tahunan. Berdua mereka masih tinggal di rumah yang sama, menjalani hari-hari berdua. Memulai hari dengan nasi goreng dan teh, dan mengobrol berdua tentang masa-masa lalu, tentang hal-hal yang familiar bagi mereka berdua. Kemudian ibu akan mulai rencana hari itu. Mungkin menunggu tukang sayur lewat di depan rumah, atau menunggu tukang tahu Cibuntu langganan keluarga mampir dengan motornya yang dimuati dengan dua drum besar tahu yang lembut dan hangat. Lalu ibu akan membeli beberapa sayuran dan ikan untuk hari itu. Tidak lupa tawar-menawar dengan si abang yang sebetulnya sudah tahu berapa yang ibuku bersedia untuk bayar. Bapakku akan membersihkan ikan atau ayam dan mengulek bumbu untuk masakan hari itu. Kemudian mereka makan bersama. Selama makan siang ibuku akan memburu-buru bapakku. “cepetan Kak, kita hari ini mau ngecek rumah kontrakan di Jatinangor. Jangan berlama-lama. Nanti keburu sore”. Lalu bapak akan protes mempertanyakan mengapa harus terburu-buru, tetapi ia juga sedikit mempercepat temponya.  Setelah makan siang selesai, mereka mencuci piring dan bersiap-siap dengan tas dan pakaian. Lalu berdua mereka berjalan dengan perlahan dan berhati-hati menuju tempat bis kota ke Jatingangor yang letaknya sekitar 20 menit berjalan kaki dengan perlahan. Bapakku berjalan mendampingi ibuku, selalu siap untuk menopang ibuku kalau-kalau ibuku terpeleset. Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka cek di Jatinangor. Yang aku tahu, ketika mereka pulang mereka akan lelah tetapi akan saling berbicara pada satu sama lain dengan bersemangat mengenai proyek mereka di rumah kontrakan.

Mum, dad, thanks for showing me what enduring love is. Your action speaks louder than your words, it helps me become who I am today.

Kebakaran hutan

Posted February 18, 2009 by lastariduggan
Categories: 1

Sabtu, tanggal 7 February 2009 adalah hari yang tak akan pernah saya lupakan. Hari itu diramalkan temperatur akan mencapai 44 C dan angin berkecepatan tinggi.  Pagi hari ketika saya membaca koran,diperingatkan bahwa hari itu bahaya kebakaran sangatlah ekstrim. Meskipun saya tinggal di daerah yang sangat rimbun di pedesaan, tanpa banyak terlalu pikir saya lipat koran dan bersiap-siap untuk pergi berenang dengan anak-anak dan teman kami. Setelah anak-anak mengakhiri minggu pertama sekolah dasar tanpa banyak kesulitan, kami pikir mereka akan senang bersantai di kolam renang.

Sekitar jam 3 sore kami masih di kolam renang. Bahkan duduk di dalam air kolam pun hari terasa panas membakar dan kering. Di kejauhan terlihat awan debu berterbangan .  Saya berkata ke teman saya “what a terrible day”.  kemudian setelah kami pulang ke rumah, dan tak lama sekitar jam 6 sore listrik padam. Sepuluh menit kemudian saya dengar sirene pemadam kebakaran berngiang-ngiang. saya pergi ke halaman belakang, mencoba melihat asap atau api. Sementara itu angin menampar panas bagaikan angin yang keluar dari mesin pemanas ruangan. Telepon rumah mati dan tak bisa dipakai, saya gunakan hp saya yang sangat low-bat untuk  mencek dengan perusahaan listrik apa yang terjadi. Yang terdengar adalah mesin penjawab otomatis yang mengatakan “due to extreme weather condition”. Saya coba bush fire info line, yang terdengar adalah nada sibuk. Saya cari radio transistor, tak ada batere. Saya tahu ada batere di mainan anak saya, tapi tak bisa saya temukan obeng untuk membuka kompartemen baterenya. Sean masih di tempat kerja dan hp saya harus dimatikan. saya menyerah dan menyibukkan anak-anak dengan makan malam dan permainan ulang tahun dengan lilin. Ketika anak-anak sudah di tempat tidur, aku sempat berpikir apa yang sebenarnya terjadi, selama 9 tahun saya tinggal di Australia, ini hanyalah mati lampu yang kedua saya alami. Pasti ada sesuatu yang terjadi.  Karena tak ada yang saya bisa lakukan, saya berusaha tenang dan pergi tidur sekitar jam 11 malam.

Jam 2 malam sean pulang dari kerja, dan Sean membangunkan saya. Dia bilang “look at the window”. Dari jendela depan rumah kami saya lihat sinar merah api di horison bagaikan gunung merah yang hidup. Untunglah Sean tahu di mana obeng berada, dan kita hidupkan radio transistor.  Dari radio nasional emergency dilaporkan bahwa sejak larut sore api berkobar di banyak kota di negara bagian Victoria. Meskipun khawatir, kita kembali ke tempat tidur, berpikir bahwa kita perlu beristirahat.

Di kemudian hari baru kami ketahui bahwa kami sangatlah beruntung. Malam itu angin mendorong api tanpa kontrol dengan kecepatan 100 km per jam dan menyeka habis beberapa kota kecil tanpa banyak peringatan sama sekali. Ratusan orang meninggal, dan ribuan kehilangan rumah dan penghidupannya. Jutaan flora dan fauna terbakar. Api malam itu hanya 8 km arah selatan jauhnya dari Beechworth, dan diberi nama Beechworth fire. Dan angin berhembus dari arah barat ke timur.

Minggu lalu adalah minggu yang sangat mengeringkan mental. Sekolah anak-anak ditutup beberapa hari dan kota kecil kami dalam keadaan waspada tinggi. Yang lebih sulit lagi, kami mengenal secara pribadi beberapa orang yang terpengaruh langsung oleh api.

Saya sangat mencintai di mana kami tinggal, dengan pepohonan yang rimbun, gaya hidup yang santai dan pemandangan yang indah, dan komunitas masyarakat yang kecil. Tapi minggu lalu saya harus merekonsiliasi pikiran bahwa semua datang dalam satu paket; ular, semut besar, laba-laba, dan kebakaran hutan di musim panas. semua harus diakui dan disadari.

With thanks to the Country Fire Authority